Sabtu, 15 November 2014

Cerpen Pena Kecil

CERPEN PENA KECIL

Alkisa seorang wanita yang jauh dari kesempurnaan terjebak di dalam dunia kesepian yang menyertai kehidupannya, tak pernah merasakan nyanyian burung bisikan ranting sekali pun tak perna bisa mengungkapkan, menyanyikan atau meneriakan. Ini kisah seoarang wanita yang hidup dengan sebuah pena yang mengarungi lautan kehidupan.

Hidup jauh dari kesempurnaan manusia, Tia seorang penulis handal yang karyannya tak bisa diragukan lagi-tulisannya telah bisa mengelilingi dunia. Mengalami sebuah kehidupan yang sangat tidak di inginkan dengan semua orang, berasal dari keluarga yang berada di bawah kesederhanaan. Tak dapat bicara,pun mendengar tak di harapkannya lagi

Tia kecil menagis saat dia menjadi bahan kelakar orang tak beradap. Walau bunyi tak mampir di kedua telinganya. Namun, dia bisa merasakan jarum-jarum tajam yang di tusukkan dari cercaan mahluk-mahluk berotak kerdil.

Tia kecil belajar mengenali huruf, membaca isyarat dan menulis kata-kata indah, setiap hari ocehan tajam dari orang-orang yang kejam menjadikan Tia bukan sekedar sekuntum bunga yang layu karena memiliki kekurangan. Dia tidak bisa marah, beteriak, atau pun membentak orang-orang itu. Semua yang ia rasakan terukir di atas kertas putih yang dinodai pena-pena kecil bertulisan kata-kata yang mengandung ribuan makna.

Kini, Tia kecil berubah menjadi Tia dewasa yang memiliki paras yang cantik. Rambutnya yang panjang,membuat para gadis sirik padanya. Tubuhnya yang elok menggugah birahi mata laki-laki berhidung belang Tia kecil yang selalu sedih kini tak lagi ada, dia benar-benar berubah menjadi wanita pujaan kaum adam. Walau keterbatasannya masih melekat dari kehidupannya, tapi kini ia tak lagi merana semua kesedihannya telah bersaran di atas kertas yang selalu isi dikali ia sedih.
Malam telah berlalu. Kini, mentari telah siap menampakan cahayannya. Tak ada awan walaupun penghalang lainya, cahaya matahari langsung mendarat kepermukaan bumi menghiasi panorama alam bumi ini.

Sinarnaya mencairkan tumbuhan yang kaku akibat terkena sengatan angin malam. Ribuan tetesan embun yang jauh dari helai-helai daun ikut mengelokan pagi itu terdengar kicauan burung saling berbalsan untuk menganggungkan dirinya. Namun, tidak dengan Tia. Mukanya tampak layu, tak ada sedikit pun keceriaan yang terlukis di wajahnya. Tia hanya termenung sendiri dikamarnya memikirkan masa depannya yang dianggapnya tak akan cerah. beberapa  detik kemudian, Tia mendapati sentuhan tangan yang mendarat tepat dipundaknya. Ia terkaget, Tia menolehkan kepalanya dan mendapati seorang laki-laki bertumbuh tinggi sedang berdiri seraya menatap wajahnya.

“Sedang apa kamu? Dari tadi saya memanggilmu tak ada jawaban sedikitpun” ujar Ilham. Ia adalah satu-satunya orang yang ingin menemani Tia.
“Hmmm...” jawab Tia mendogak seraya dengan wajah yang lemah, mendengar jawaban dari Tia, ilham pun baru saja menyadari dengan apa yang telah dilakukannya, sudah menjadi hal yang wajar kalu Tia tidak bisa mendengar atau pun menyahut panggilan dari orang lain. Ilham pun berbicara seraya dengan menggunakan tanda isyarat pada Tia yang maksudnya, “Tia sedang apa kamu? Tia pun membalasanya dengan senyum manis yang melekat di bibirnya, Tia melanjutkannya aku sedang tidak melakukan apa-apa. Sejak kapan kamu ada dirumahku?’
Ilham agak kebingungan dengan apa yang Tia isyaratkan kepadanya. ‘aku tidak mengerti apa yang kau isyaratkan, bisakah kamu menuliskan apa yang ingin kamu katakan?’ isyarat ilham.

Saat ilham mengambil secarik kertas untuk menuliskan perkataan dari Tia. Ia mendapati tumpukan kertas yang berisi kata-kata yang indah. Ia melihat sederat tulisan tepat berada paling atas dari tumpukan tersebut dengan judul aku ingin bebas yang meruapakan salah satu karya Tia. Ilham mengambil tulisan tersebut dan membacanya dengan suara pelan. Kata-kata yang indah dan puitis membuat ilham terharu akanya. Dia tidak menyangka bahwa selama ini Tia selalu menuliskan apa yang ia alami ke dalam secarik kertas kosong yang tidak akan disangka oleh siapapun. Tulisan itu berisi harapan-harapan Tia dari apa yang ia alami selama ini.
“Tia apakah ini milikmu?” tanya ilham, sambil menggerak-gerakkannya. Menandakan suatu isyarat.
Tia mengaggukan kepalanya. ‘mengapa kau tanyakan itu’
Isinya sangat indah, tak ada seorang pun yang bisa melebihi karya seperti ini. Ini adalah suatu anugrah yang alami datang dari Tuhan’.
Suasana hening di antara mereka, sesaat setelah ilham meminta kepada Tia untuk mengirimkan ke sebuah redaksi.

Hari baru telah tiba. Bebeda dengan hari-hari sebelumnya. Tia menyambut senyum dari matahari yang memesona. Wajahnya yang sangat ceria seakan membawa pesan kebahagiaan baginya. Tak ada sedikit pun hal yang membuat hatinya terlarut akan kesedihan. Salam manis yang datang dari bunga-bunga yang bermekaran disambutnya dengan senyuman manis dari bibirnya.

Hari ini adalah hari yang sangat indah baginya. Hari dimana Tia kecil yang selalu menangisi kekurangannya menjadi hari yang tidak akan pernah dimiliki oleh siapapun. Intan diundang oleh salah satu acara talk show di Amaerika yang dibintangi oleh salah satu selebriti papan atas dunia, yaitu Oprah Winfrey. Seorang Host kelas kakap dan namanya juga terdaftar kedalam deretan artis terkaya di dunia. Tak pernah menyangka, sejak tulisannya yang dikirim oleh ilham beberapa bulan yang lalu. Sekarang ia telah menjadi maestro satrawan termuda di dunia.

Tulisannya telah diakui oleh beberapa redaksi besar di dunia. Bahkan tulisannya yang sempat dibaca oleh ilham pertama kali telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Memang, tidak akan ada orang yang menyangka bahwa seorang wanita yang selalu dianggap lemah, kini menjadi sosok seseorang yang melebihi dari kodrat manusia yang dianggap sempurna.
Ini adalah kisah tentang seorang wanita tunaganda yang bisa melebihi kemampuan orang yang dianggap sempurna.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar